Minggu, 03 April 2011

Reformasi Sistem Pendidikan Jepang

Rupanya, bukan hanya Indonesia yang gemar mereformasi (atau sekadar mengganti) kurikulum pendidikan. Negara maju seperti Jepang yang pendidikannya terbukti mampu mencetak kader-kader bangsa yang qualified, ternyata mengalami hal yang sama.

Reformasi sistem pendidikan tertuang dalam program “Yutori Kyoiku” yang dicanangkan Kementrian Pendidikan, Budaya,Olahraga, Ilmu Pengetahuan, serta Teknologi (MEXT).

Latar Belakang
Apakah yang melatarbelakangi program tersebut?

Meskipun sistem pendidikan Jepang tergolong sangat baik, terbukti dengan performa siswanya dalam bidang Matematika dan ilmu alam, ternyata pemerintah Jepang merasa belum puas, terutama rentang antara 1980-1990.

Pendidikan di Jepang memang memiliki serangkaian keunggulan, misalnya:

  • kurikulum dasar yang kuat pada bidang studi Matematika dan ilmu pasti,
  • komitmen masyarakat yang kuat pada keunggulan akademik,
  • keselarasan hubungan pengajar dan peserta didik,
  • perencanaan pendidikan yang matang visioner,
  • implementasi yang baik dalam ilmu terapan.
Namun, muncul perdebatan publik dan studi komparasi yang mengetengahkan fakta bahwa sistem pendidikan di Jepang terlalu kaku mengaplikasikan ujian masuk calon siswa baru serta lebih menekankan kemampuan ingatan terhadap fakta-fakta.

Yutori Kyoiku diformulasikan untuk meredam kecenderungan tersebut. Seiring, upaya meningkatkan standar akademik dalam program “Super Science” untuk siswa-siswi SMA dengan kemampuan di atas rata-rata.

Kalender Akademik

Sebagai gambaran, ada baiknya kita melongok kalender akademik SMA Nakamura, sebuah sekolah level menengah ke atas yang menganut sistem full time course dengan hari belajar Senin-Jumat.

Umumnya SMA di Jepang, kegiatan belajar-mengajar berlangsung pukul 08:45 -15.15, tersusun atas enam jam pelajaran. Satu jam berdurasi 50 menit. Dengan pengecualian hari Rabu yang tersusun atas tujuh jam, dalam seminggu terdapat 31 jam pelajaran.

Ada Sembilan mata pelajaran yang diajarkan, yaitu:

  1. Bahasa Jepang
  2. Geografi/Sejarah
  3. Pendidikan Kewarganegaraan
  4. Matematika
  5. Pendidikan Jasmani dan Olahraga
  6. Pendidikan Seni
  7. Bahasa Asing (Inggris)
  8. Pendidikan Kesejahteraan Keluarga dan IT
  9. Keterampilan
Tahun akademik dimulai April, terbagi menjadi dua semester, dan melangsungkan lima kali ujian pada Mei, Juli, Oktober, Desember,dan Februari.

Jadwal kegiatan akademik secara global adalah sebagai berikut.

Semester Ganjil:

  1. April: Penerimaan siswa baru, Tes Akademik, Tes Kesehatan, dan Orientasi Karir kelas 3.
  2. Mei: Ujian tengah semester, Orientasi Karir kelas 2, Sports Day.
  3. Juni: Kegiatan belajar-mengajar untuk kelas 1, Ujian kelas 3.
  4. Juli: Ujian akhir semester, Tambahan Pelajaran, Camping.
  5. Agustus: Open Day, School Day, CampingFestival Sekolah dan masa liburan musim panas.
Semester Genap:
  1. September: Opening Ceremony, Tes Akademik, Festival Sekolah.
  2. Oktober: Ujian tengah semester, Kuliah dari Universitas kelas 2.
  3. November: Tes Akademik, Tes Kemampuan Akademik kelas 3,Reading session untuk 1.
  4. Desember: Tes Akademik, tambahan pelajaran, berbarengan dengan masa liburan musim dingin.
  5. Januari: Tes Kemampuan Akademik, Ujian Akhir kelas 3,Reading Session kelas 2.
  6. Februari: Ujian akhir kelas 1 dan 2.
  7. Maret: Wisuda, Ujian susulan.
Reformasi
Jadi, reformasi seperti apa yang dicanangkan dalam Yutori Kyoiku?
  1. Mengembangkan model pembelajaran yang lebih fleksibel untuk meningkatkan kemampuan dasar scholastic siswa.
  2. Perbaikan mutu pembelajaran yang menekankan pada karakterkepribadian siswa secara intrapersonal dan interpersonal.
  3. Mengurangi tekanan dan mengembangkan aspek lingkunganbelajar yang menyenangkan.
  4. Evaluasi sekolah secara mandiri dan transparan oleh orangtua siswa dan masyarakat.
  5. Meningkatkan profesionalitas guru, etos kerja, dan upgrading. Dilengkapi dengan penerapan evaluasi, dan penghargaan bagi guru berprestasi.
  6. Mendorong pengembangan universitas dengan taraf internasional.
  7. Reformasi konstitusi dan pembentukan filosofi pendidikan untuk menyongsong abad baru.
Reformasi yang dilakukan bukan terletak pada materi pelajaran ataumetode pengajaran di kelas, tetapi pada sistem pendidikan di sekolah. Konsep ini sesuai dengan problematika yang ada. Selain itu, negara ini tampak tidak membangun kelas-kelas baru dan justru menggabungkan beberapa sekolah yang ada.

Dengan kata lain, sistem pendidikan di Jepang bertujuan menciptakan kader bangsa yang sehat jasmani dan rohani, serta penuh estetika. Sistem semacam ini diharapkan mampu menghasilkan murid yang ideal, tekun melatih diri sendiri, mengikuti aturan, dan memiliki wawasan berpikir internasional.

Lantas, bagaimana dengan sistem pendidikan Indonesia yang telah berkali-kali ganti kurikulum? Adakah reformasi tercanang di dalamnya, ataukah sekadar utak-atik materi lama dan memberi sentuhan namabaru sebagai jaketnya? Semoga tidak!



sumber: www.AnneAhira.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...